بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد
Alhamdulillah, pada bagian ketiga dari fiqih jenazah ini akan dibahas tentang hukum-hukum mengafani jenazah. Nah, setelah selesai memandikan jenazah, maka wajib untuk mengafaninya berdasarkan kesepakatan ulama (ijma'). (Al Majmu': 5/146, An Nawawi; Al Mughni: 2/335, Ibnu Qudamah; Syarhus Sunnah: 5/320; Al Baghowi sebagaimana dalam Jami'ul Adillah, hal. 208)
Dalil yang menunjukkan akan hal ini diantaranya adalah perintah Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam dalam hadits kisah seorang muhrim yang terjatuh dari ontanya:
بينما رجل واقف بعرفة، إذ وقع عن راحلته فوقصته، أو قال: فأقعصته، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اغسلوه بماء وسدر، وكفنوه.. الحديث
"Ketika seseorang tengah melakukan wukuf di Arofah, tiba-tiba dia terjatuh dari hewan tunggangannya dan patah lehernya sehingga meninggal. Maka Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam berkata: "Mandikanlah ia dengan air campur sidr (bidara), lalu kafanilah…!" (HR. Bukhori dan Muslim dari Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhuma)Dalil yang menunjukkan akan hal ini diantaranya adalah perintah Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam dalam hadits kisah seorang muhrim yang terjatuh dari ontanya:
بينما رجل واقف بعرفة، إذ وقع عن راحلته فوقصته، أو قال: فأقعصته، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اغسلوه بماء وسدر، وكفنوه.. الحديث