Tampilkan postingan dengan label Tauhid & Syirik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid & Syirik. Tampilkan semua postingan

Terkabulkah Doa Pelaku Kesyirikan & Kemaksiatan?



بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نستعينه ونستغفره وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما كثيرا أما بعد

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu -wahai Nabi- tentang-Ku, maka jawablah: “Sungguh Aku ini adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu menaati segala perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu mendapatkan hidayah dan petunjuk kepada kebaikan agama dan dunia mereka.” (Tafsir Muyassar QS. Al-Baqoroh: 186)

Dalam ayat ini terdapat pengabaran dari Alloh subhanahu wa ta'ala akan kedekatan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, suatu kedekatan yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh menerangkan bahwasanya Alloh subhanahu ta’ala mengabarkan bahwa Dia itu dekat, mengabulkan do’a hamba-Nya jika ia berdo’a kepada-Nya. Kemudian Alloh ta'ala memerintahkan mereka untuk memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya, sebagaimana ucapan sebagian ulama tafsir dalam memaknai ayat tersebut: “Maka hendaklah mereka itu menaati segala perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu mendapatkan hidayah dan petunjuk kepada kebaikan agama dan dunia mereka.”

ZODIAK DAN KESYIRIKAN KAUM IBROHIM



بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أما بعد

Sesungguhnya Alloh subhanahu wa ta’ala telah menciptakan manusia pada mulanya berada di atas agama yang lurus dan fithroh yang suci, sebagaimana dalam sebuah hadits qudsiy, dari ‘Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’iy rodhiyallohu ‘anhu dalam Shohih Muslim, bahwasanya Alloh ta’ala berfirman:

وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم، وإنهم أتتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم، وحرمت عليهم ما أحللت لهم، وأمرتهم أن يشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا

“Sesungguhnya Aku telah ciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Maka datanglah para setan, lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka. Mengharamkan apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku (berbuat kesyirikan) dengan apa yang tidak Aku turunkan dalilnya.”

Tidaklah orang itu tersesat dan terjatuh kepada kesyirikan, melainkan karena ulah setan. Pada awalnya manusia belum mengenal kesyirikan. Mereka masih di atas agama yang lurus (hanif) yang telah dikaruniakan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Namun setelah berjalan beberapa abad, setan datang menggoda sekelompok manusia untuk mengkultuskan orang-orang sholeh yang telah wafat, sampai akhirnya mereka disembah. Sehingga terjadilah kesyirikan pertama di dunia ini, yaitu kesyirikan kaum Nuh 'alaihis salam. Maka Alloh subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Nuh ’alaihis-salam untuk mengembalikan keadaan manusia kepada ajaran tauhid dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kesyirikan.